Dimana Kita Mulai?[1]

V.I. Lenin (1901)


Sumber: Diterjemahkan dari teks dalam V.I. Lenin, Collected Works, edisi IV Bahasa Inggris, Foreign Languages Publishing House, Moscow, 1961 Jilid 5, halaman 13-24. Where to Begin?

Penerjemah: NN (April 1997)

Ditulis bulan Mei 1901 Diterbitkan dalam Iskra No. 4 Mei 1901


Dalam tahun-tahun belakangan ini, masalah "apa yang harus dikerjakan" telah menghadapkan Kaum Sosial-Demokrat Rusia secara sangat mendesak. Hal itu bukanlah masalah tentang jalan apa yang harus kita pilih (sebagaimana halnya pada akhir 1880-an dan awal 1890-an), akan tetapi tentang langkah-langkah praktek mana yang harus kita ambil pada jalan yang sudah dikenal, dan bagaimana langkah-langkah itu harus diambil. Ini adalah masalah tentang suatu sistem dan perencanaan kerja-kerja praktek. Dan harus diakui bahwa kita belum memecahkan masalah megenai karakter dan metode-metode perjuangan ini, sebuah masalah mendasar bagi sebuah partai yang aktivitasnya berupa praktek; hal ini masih menimbulkan perbedaan-perbedaan pendapat yang serius, yang menampakkan ketidaktetapan serta kebimbangan ideologis yang menyedihkan. Di satu sisi, aliran "Kaum Ekonomis" yang jauh dari mati, sedang berupaya untuk membatasi dan menyempitkan kerja organisasi dan agitasi politik. Di pihak lainnya, kecenderungan eklektis yang tidak berprinsip bangkit kembali, dengan mengekor setiap "trend" yang paling akhir, dan tidak mampu membedakan antara tuntutan-tuntutan sementara dengan tugas-tugas pokok serta kebutuhan-kebutuhan permanen pergerakan secara keseluruhan. Sebagaimana kita ketahui, aliran ini telah memapankan dirinya dalam Rabocheye Dyelo. [2] Pernyataan terakhir jurnal ini mengenai "program", dalam satu artikel bombastis dengan judul yang sama bombastisnya, "Sebuah Pembalikan Sejarah" ("Listok" Rabochevo Dyelo No. 6 [3]), secara tegas membuktikan penaksiran kami tentang hal ini. Baru kemarin mereka bercumbu-cumbuan dengan "Ekonomisme" dan dibuat geram oleh kutukan tegas dari pihak Rabochaya Mysl, [4] sedangkan argumentasi Plekhanov tentang perlawanan terhadap Otokrasi dimoderasikan. Tapi kini, malah kata-kata Liebknecht dikutip: "Bila dalam 24 jam situasi berubah, maka taktik harus diubah dalam 24 jam." Terdapat omongan mengenai sebuah "organisasi yang kuat daya tempurnya" untuk menyerang langsung dan menyerbu otokrasi; mengenai "agitasi politik revolusioner di tengah massa" (alangkah enerjiknya kita sekarang -revolusioner sekaligus politis!); mengenai seruan "tiada henti-hentinya mengajak protes di jalanan,"; mengenai "berbagai demonstrasi di jalanan yang terang-terangan [sic!] berkarakter politis,"; dan selanjutnya, dan seterusnya.

Kita boleh-boleh saja menyatakan bahwa diri kita cukup senang Rabocheye Dyelo cepat menangkap program-program yang kita ajukan dalam terbitan pertama Iskra, [5] yakni program ajakan membentuk sebuah partai yang kuat serta terorganisir dengan baik, yang bertujuan bukan hanya memenangkan konsesi-konsesi tertutup, tetapi bertujuan untuk juga mendobrak otokrasi itu sendiri; namun, kurangnya dasar cara pandang individu-individu itu tadi hanya bisa mengurangi kebahagiaan kita tersebut.

Tentulah, Rabocheye Dyelo sia-sia saja menyebutkan nama Liebknecht. Memang, taktik-taktik agitasi yang berkaitan dengan beberapa masalah tertentu, atau pun taktik-taktik yang berkaitan dengan beberapa detail organisasi partai, dapat diubah dalam 24 jam; akan tetapi hanya orang yang menyingkirkan segala prinsip lah yang punya kesanggupan berubah dalam dua puluh empat jam, ataupun dalam dua puluh empat bulan, pandangan mereka tentang perlunya -secara umum, konstan, dan absolut- sebuah organisasi untuk perjuangan dan agitasi politik di tengah massa.

Adalah konyol untuk mengajukan dalih situasi-situasi yang berbeda dan periode yang berubah-rubah: membangun sebuah organisasi perjuangan dan memimpin agitasi politik selalu menjadi masalah pokok di bawah sembarang situasi "membosankan, penuh kedamaian", dalam segala periode, tak peduli bagaimana pun ini ditandai oleh suatu "penurunan semangat revolusioner"; lebih lanjut, adalah tepatnya di dalam periode-periode yang begini dan di bawah situasi-situasi beginilah kerja-kerja yang demikian tadi itu amat sangat dibutuhkan, karena akan terlambat untuk membentuk organisasi di masa-masa terjadinya ledakan dan riuh-rendah pergolakan; partai harus berada dalam kondisi kesiagaan untuk beraksi sewaktu-waktu. "Ubah taktik-taktik dalam 24 jam!" Tapi untuk mengubah taktik-taktik, pertama-tama haruslah memiliki taktik-taktik itu; tanpa organisasi kuat yang teruji dalam perjuangan politik di segala situasi dan waktu, mustahillah sebuah rencana aksi yang sistimatis –– dituntun oleh prinsip-prinsip yang kuat dan dilaksanakan dengan teguh –– yang patut diberikan nama taktik. Mari kita tinjau permasalahannya; saat ini kita sedang dibilangi bahwa "konyunktur historis" menghadapkan partai kita kepada suatu permasalahan yang "sama sekali baru" –– yakni tentang masalah teror. Kemarin permasalahan yang "sama sekali baru" adalah tentang organisasi dan agitasi politik; sekarang, tentang teror. Tidakkah aneh mendengar orang-orang, yang telah begitu melupakan prinsip-prinsip mereka, membicarakan tentang suatu perubahan radikal dalam soal taktik?

Untunglah, Rabocheye Dyelo tidak benar. Persoalan tentang teror samasekali bukan masalah baru; cukuplah memaparkan kembali pandangan mapan kaum Sosial-Demokrat Rusia dalam menanggapi persoalan tersebut.

Pada prinsipnya kita belum pernah, dan tidak dapat, menolak teror. Teror adalah suatu bentuk aksi militer yang bisa jadi cocok sekali, dan bahkan sangat dibutuhkan, pada suatu saat tertentu di dalam pertempuran, dalam keadaan tertentu pasukan tempur serta kondisi-kondisi tertentu. Namun titik pentingnya adalah bahwa saat ini teror sama sekali tidak sedang diusulkan sebagai suatu operasi tentara yang aktif di lapangan, yang erat kaitannya dengan keseluruhan sistim perjuangan, tapi sebagai bentuk independen dari serangan tersendiri yang tidak terkait dengan tentara manapun. Tanpa suatu badan sentral, dan selama organisasi-organisasi revolusioner lokal masih lemah, teror tidak bisa menjadi lebih dari itu. Makanya kita menyatakan secara tegas bahwa dalam situasi sekarang ini, alat perjuangan semacam itu tidak pada tempatnya dan tidak cocok: itu mengalihkan perhatian para pejuang yang paling aktif dari tugas-tugas mereka yang sebenarnya, yang dari sudut pandang perjuangan keseluruhan adalah paling penting; dan akan memporakporandakan bukan kekuatan pemerintah melainkan kekuatan revolusioner. Kita hanya perlu mengingat tentang kejadian-kejadian belakangan ini. Dengan mata kepala sendiri kita melihat massa buruh dan "rakyat kebanyakan" terdorong maju dalam kancah perjuangan, sementara kaum revolusioner kekurangan staf-staf pemimpin dan organisator. Dalam situasi demikian, bukankah kita menghadapi bahaya bahwa, bila kaum revolusioner yang paling berenerji malah beralih ke terorisme, bahwa satuan-satuan penyerang, tempat satu-satunya kemungkinan untuk bersandar, diperlemah sebagai akibatnya? Bukankah kita menanggung risiko memutuskan jalinan kontak antara organisasi revolusioner dengan massa yang tersebar luas, yang sedang mengalami ketidakpuasan, sedang menuntut, sudah siap untuk berjuang, tapi lemah karena mereka kini tercerai berai? Padahal kontak tersebut satu-satunya jaminan bagi keberhasilan kita. Kita sama sekali tidak mengingkari pentingnya aksi heroik individual, tapi adalah wajib kita untuk memberikan peringatan keras agar jangan tergila-gila pada teror, menentangnya agar jangan sampai hal itu dijadikan alat perjuangan utama dan mendasar –– yang sekarang justru begitu banyak orang cenderung melakukannya. Teror tidak pernah menjadi operasi reguler militer; paling-paling dapat dipakai sebagai satu dari berbagai metode yang dipergunakan dalam suatu serangan yang menentukan. Akan tetapi dapatkah kita, sekarang ini, mengusulkan ajakan untuk mengadakan serangan yang menentukan seperti itu? Rabocheye Dyelo, nampaknya, berpendapat demikian. Paling tidak ia menyerukan: "Bentuklah barisan penyerang!" Tapi sekali lagi, seruan ini lebih mencerminkan emosi daripada akal sehat. Badan utama kekuatan militer kita terdiri dari para sukarelawan dan pemberontak. Kita hanya memiliki sedikit unit-unit kecil pasukan tempur reguler, yang bahkan belum termobilisasi; tidak terjalin erat satu dengan lainnya, dan juga belum terlatih untuk membentuk barisan tentara macam apapun, apalagi membentuk jajaran tempur. Mengingat semua ini, haruslah jelas bagi siapapun yang mampu memahami kondisi-kondisi umum perjuangan kita, dan yang mengingat kondisi-kondisi tersebut pada setiap "pembelokan" dalam perkembangan kejadian historis, bahwa semboyan kita sekarang ini belum bisa "maju dan menyerang," akan tetapi harus "mengepung benteng musuh." Dengan kata lain: tugas utama partai kita bukan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk menyerang sekarang juga, akan tetapi mengajak membangun sebuah organisasi revolusioner yang mampu menyatukan seluruh kekuatan dan mengarahkan pergerakan dalam praktek yang sebenarnya, bukan hanya sekedar nama. Yaitu, sebuah organisasi yang siap setiap saat untuk mendukung setiap protes dan kebangkitan, serta menggunakannya untuk membangun dan mengkonsolidasikan kekuatan tempur yang dibutuhkan bagi perjuangan yang menentukan.

Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian-kejadian bulan Februari dan Maret [6] begitu mengesankan, sehingga agak kecil kemungkinannya sebuah ketidaksetujuan yang bersifat prinsip dengan kesimpulan tersebut. Namun apa yang kita butuhkan sekarang bukanlah suatu solusi masalah prinsipil, melainkan solusi yang praktikal. Kita harus jelas bukan hanya akan sifat dasar organisasi yang dibutuhkan serta tujuan tepat organisasi itu, tetapi harus mengelaborasi sebuah perencanaan pasti bagi sebuah organisasi, sehingga pembentukan organisasi itu dapat dikerjakan dari segala aspek. Mengingat masalah ini sangat mendesak, maka kami, pada bagian kami, akan mengajukan pada kamerad sekalian suatu rencana garis besar, yang akan dikembangkan secara rinci dan sangat teliti dalam sebuah pamflet yang sekarang sedang disiapkan pencetakannya.[7]

Menurut kami, titik tolak kegiatan kita, langkah pertama menuju organisasi yang dicita-citakan, atau, bisa dikatakan hal ini merupakan jalur utama yang -bila diikuti-memungkinkan kita secara pasti untuk mengembangkan, memperdalam dan memperluas organisasi tersebut, ialah pendirian sebuah koran politik yang menjangkau seluruh Rusia. Apa yang sangat kita butuhkan adalah koran. Tanpa koran kita tak akan dapat secara sistimatis menjalankan propaganda dan agitasi secara menyeluruh, konsisten dalam prinsip, yang mereupakan tugas utama dan tetap kaum Sosial-Demokrat secara umum, dan juga merapakan tugas yang paling mendesak pada saat ini, ketika minat pada politik dan masalah-masalah sosialisme telah bangkit di tengah-tengah sebagian besar penduduk. Sebelumnya, tidak pernah ada kebutuhan yang begitu besar seperti sekarang ini untuk memperkuat agitasi yang disebarkan oleh aksi-aksi individual, selebaran lokal, pamflet-pamflet, dan sebagainya, dengan cara agitasi sistimatis dan luas melalui terbitan pers reguler. Bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan kalau dikatakan bahwa frekwensi dan keteraturan pencetakan suatu koran (serta distribusinya) dapat dijadikan sebuah kriteria yang tepat mengenai sebagus apa sektor yang paling utama dan esensial dari aktivitas-aktivitas militan kita ini dibangun. Lebih jauh lagi, koran kita haruslah koran yang dapat menjangkau seluruh Rusia. Jika kita gagal, dan selama kita gagal, menggabungkan usaha-usaha kita untuk mempengaruhi rakyat dan pemerintah dengan menggunakan kalimat-kalimat cetakan, maka hanya akan menjadi utopia semata untuk berpikir tentang mengkombinasikan cara-cara lain yang lebih kompleks, sulit, tetapi yang juga lebih meyakinkan guna meluaskan pengaruh. Secara ideologis, sebagaimana juga dalam praktek dan dalam pengertian-pengertian organisasi, pergerakan kita menderita kerugian besar disebabkan pergerakan kita ini berada dalam kondisi tercabik-cabik, juga disebabkan karena mayoritas luas –– bahkan hampir-hampir seluruhnya –– kaum Sosial-Demokrat terbenam pada kerja-kerja lokal, yang menyempitkan pandangan mereka, jangkauan aktivitas mereka, kesiapan dan kecakapan mereka dalam menangani kerahasiaan. Persisnya dalam keadaan terfragmentasi inilah kita harus melihat akar terdalam dari ketidakstabilan dan kebimbangan yang telah disebutkan tadi. Langkah pertama untuk mengatasi kelemahan ini, guna mentransformasikan pergerakan-pergerakan lokal menjadi satu di seluruh Rusia, haruslah berupa pendirian sebuah koran se-Rusia. Dan apa yang dibutuhkan adalah sebuah koran politik. Tanpa organ politik, suatu pergerakan yang pantas disebut pergerakan politik tidak mungkin di Eropa sekarang ini. Tanpa koran semacam itu kita tidak mungkin dapat memenuhi tugas kita –– tugas mengkonsentrasikan unsur-unsur ketidakpuasan dan protes politik, guna memperkokoh pergerakan revolusioner kaum proletar. Kita telah mengambil langkah pertama, kita telah membangkitkan suatu hasrat di dalam kelas buruh untuk melakukan pembongkaran "ekonomis", ialah tentang ikhwal pabrik; kini kita harus mengambil langkah berikutnya, yakni membangkitkan dalam setiap lapisan masyarakat yang melek politik sebuah hasrat untuk pembongkaran politis. Kita tidak boleh berkecil hati oleh adanya fakta bahwa saat ini suara-suara pengungkapan politis masih lemah, takut-takut, dan jarang terdengar. Hal ini bukan disebabkan kepatuhan sepenuhnya terhadap kelaliman polisi, melainkan karena orang-orang yang mampu dan siap mengadakan pengungkapan-pengungkapan politik tadi tidak memiliki mimbar untuk berbicara, tidak ada audiens yang haus dan bersemangat, mereka tidak melihat di manapun di antara massa kekuatan yang bisa menhantarkan keluhan mereka dalam menentang "kemahakuasaan" Pemerintah Rusia. Tapi sekarang semuanya sedang berubah dengan cepat. Ada kekuatan demikian – kaum proletar revolusioner yang sudah menunjukkan kesiapannya, tidak saja hanya untuk mendengarkan dan mendukung seruan demi perjuangan politik, akan tetapi juga bersedia ikut bertempur. Sekarang ini kita sudah mampu menyediakan sebuah mimbar buat mengekspos pemerintah Tsaris secara nasional, dan memang tugas kitalah untuk melakukannya. Mimbar tersebut haruslah koran Sosial-Demokrat. Kelas buruh Rusia, berbeda dari kelas dan strata lainnya dalam masyarakat Rusia, menonjolkan minat yang konstan serta luas dalam pengetahuan politik, dan menunjukkan secara luas dan terus menerus (tidak hanya dalam periode kerusuhan semata) kehausan atas literatur ilegal. Ketika minat massa semacam ini telah jelas, ketika pelatihan para pemimpin revolusioner yang berpengalaman telah dimulai, dan ketika konsentrasi kelas buruh membuat kelas itu penguasa yang sebenarnya di kampung-kampung buruh dan daerah-daerah perindustrian di kota-kota besar, maka bukan hal yang tidak mungkin untuk mendirikan sebuah koran politik. Melalui kaum proletar koran tersebut akan mencapai kaum borjuasi kecil perkotaan, pengrajin di pedesaan, dan kaum tani; dengan begitulah ia menjadi suatu koran politik milik rakyat.

Bagaimanapun juga, peran koran seharusnya tidak terbatas pada penyebaran ide-ide, pendidikan politik, dan pada pendaftaran sekutu-sekutu politik. Sebuah koran tidak hanya melakukan propaganda dan agitasi kolektif, tetapi juga harus menjadi organisator kolektif. Dalam hal terakhir ini mungkin bisa disamakan dengan rancah yang mengelilingi bangunan dalam proses konstruksi, yang menandai bentuk struktur bangunan dan memudahkan komunikasi di antara para pembangunnya, sehingga mereka bisa mendistribusikan pekerjaan dan memandang hasil-hasil yang dikerjakan oleh tenaga mereka yang terorganisir. Dengan bantuan koran itu, sebuah organisasi yang permanen akan berkembang secara alamiah. Organisasi ini akan berperan tidak hanya dalam aktivitas lokal, tetapi dalam pekerjaan umum yang reguler, dan akan melatih para anggotanya untuk mengamati kejadian-kejadian politik secara telaten, menafsir artian dan pengaruh mereka dalam berbagai macam strata penduduk, dan memgembangkan taktik-takik efektif bagi partai revolusioner itu untuk mempengaruhi kejadian-kejadian tersebut.

Pekerjaan teknis seperti mempersiapkan berita-berita buat koran ini serta mempromosikan dan menyebarluaskanya akan memerlukan sebuah jaringan kerja agen-agen lokal partai itu, yang akan berkomunikasi secara teratur satu sama lain, selalu mengetahui tentang keadaan-keadaan umum, terbiasa untuk menjalankan fungsi-fungsi mereka secara rinci dan teratur di seluruh Rusia, dan menguji kekuatan mereka dalam menggelar berbagai aksi revolusioner.

Jaringan agen[*] ini akan membentuk kerangka sebuah organisasi seperti yang kita butuhkan. Cukup luas dan bersegi ganda demi menjalankan sebuah pembagian kerja yang teliti dan terperinci; dan sangat kuat supaya mampu meneruskan pekerjaannya secara mandiri dalam keadaan apa pun bahkan di hadapan perubahan yang sangat mendadak, atau situasi yang amat berbelit-belit, atau dalam situasi tak terduga. Di satu pihak cukup fleksibel untuk menghindari perang terbuka melawan musuh yang sangat besar, ketika musuh itu sudah memusatkan seluruh kekuatan mereka di satu titik; tetapi di lain pihak mampu mengambil kesempatan baik, dan menyerang musuhnya ketika mereka tidak terlalu menyadarinya

Sekarang, kita menghadapi tugas yang relatif mudah yaitu mendukung demonstrasi-demonstrasi mahasiswa di jalanan kota-kota besar; esok, kita mungkin menghadapi tugas berat dalam menyokong, contohnya, gerakan para penganggur di daerah-daerah tertentu; dan hari berikutnya, kita harus berada di pos-pos kita untuk memainkan peranan revolusioner dalam pemberontakan petani. Sekarang, kita harus mengambil keuntungan dari panasnya situasi politik akibat kampanye pemerintah menentang Zemstvo [parlemen boneka]; esok bisa jadi kita harus mendukung ketidakpuasan rakyat terhadap seorang perwira Tsaris yang gila dan buas, dan menyokong, dengan cara-cara pemboikotan, ungkapan ketidakpuasan serta demonstrasi-demonstrasi, dan lain sebagainya, untuk begitu mempersulit dia, sehingga dia bisa dipukul mundur secara terbuka. Tingkat kesiapan untuk bertempur yang demikian hanya dapat dibangun di atas basis aktifitas konstan pasukan reguler. Jikalau kita menggabungkan kekuatan untuk memproduksi satu koran bersama, maka pekerjaan demikian akan melatih dan memajukan tidak saja para propagandis yang paling terampil, akan tetapi juga organisator-organisator yang paling cakap, para pemimpin partai politik yang paling berbakat dan mampu meluncurkan, pada saat yang tepat, ajakan pertempuran yang menentukan serta memimpinnya.

Sebagai penutup beberapa kata-kata untuk menghindarkan kesalahpahaman yang mungkin timbul. Secara terus menerus kita telah berbicara tentang persiapan yang sistimatis dan terencana, namun sama sekali bukan maksud kita bahwa otokrasi dapat ditumbangkan hanya oleh pengepungan reguler atau serangan yang terorganisir.
Pandangan demikian akan menjadi menggelikan dan doktriner. Sebaliknya, adalah mungkin saja, dan secara historis lebih sering terjadi, bahwa otokrasi akan runtuh di bawah tekanan ledakan spontan atau komplikasi-komplikasi politik yang tak terduga sebelumnya, yang sebenarnya secara terus-menerus mengancam otokrasi itu dari segala sudut. Akan tetapi, sebuah partai politik yang ingin menghindarkan petualangan yang amat riskan, tidak boleh mendasarkan kegiatannya pada harapan ledakan dan komplikasi yang demikian akan terjadi. Kita harus menempuh jalan sendiri, dan haruslah secara tabah mengemban kerja reguler kita; dan makin berkurangnya kepercayaan pada faktor yang tidak bisa diduga sebelumnya, maka semakin berkurang juga kemungkinan kita terperangkap kelengahan yang disebabkan "perubahan historis" apapun.

Catatan

[1]"Di Mana Kita Mulai" (Where to Begin) diterbitkan dalam Iskra dan diterbitkan kembali oleh organisasi-organisasi Social-Demokratik lokal sebagai sebuah pamflet terpisah. Liga Social-Democratik Siberia mencetak 5.000 kopi dari dan mendistribusikannya ke seluruh Siberia. Pamflet tersebut didistribusikan juga di Samara, Tambov, Nizhni-Novgorod, dan kota-kota lain di Rusia.

[2] Rabocheye Dyelo (Perjuangan Buruh)-- sebuah jurnal dengan pandangan-pandangan "Kaum Ekonomis", organ Persatuan Sosial-Demokrat Rusia di luar negeri. Majalah ini terbit secara tidak teratur dan diterbitkan di Jenewa dari bulan April 1899 hingga Februari 1902, diedit oleh B. N. Krichevsky, A. S. Martinov, dan V.P. Ivanshin.
Semuanya berjumlah 12 nomor dalam 9 edisi.Lenin mengkritik pandangan-pandangan kelompok Rabocheye Dyelo dalam tulisannya "Apa yang harus Dilakukan" (What Is to Be Done?)

[3] "Listok" Rabochevo Dyela (Suplemen Rabocheye Dyelo) –– delapan nomor diterbitkan di Jenewa dengan jarak yang tidak teratur, antara Juni 1900 dan Juli 1901.

[4] Rabochaya Mysl (Pemikiran Buruh)-- sebuah koran "Kaum Ekonomis", organ Persatuan Sosial-Demokrat Rusia di luar negeri. Diterbitkan dari Oktober 1897 sampai Desember 1902. Semuanya berjumlah 16 terbitan: nomor 3 sampai 11 serta Nomor 16 diterbitkan di Berlin, sisanya di St. Peterburg. Koran ini diedit oleh K.M. Takharev dan rekan-rekannya yang lain. Lenin mencirikan pandangan-pandangan koran ini sebagai sebuah variasi ala Rusia dari oportunisme internasional dan mengkritiknya dalam sejumlah besar artikel-artikelnya yang diterbitkan di Iskra dan juga dalam karya-karya lain, termasuk dalam "What Is to Be Done?"

[5] Ini merujuk pada artikel "Tugas-tugas yang Mendesak dalam Gerakan Kita" (The Urgent Tasks of Our Movement) yang terbit sebagai tajuk rencana dalam Iskra no. 1, Desember 1900 (lihat edisi Collected Works ini, volume 4, halaman 366-71) Iskra ("Cetusan") adalah koran gelap pertama kaum Marxist yang menjangkau seluruh Rusia, didirikan oleh Lenin pada tahun 1900. Pendirian organ militan Marxis revolusioner ini merupakan "jaringan utama dan tugas pokok dalam mata rantai jaringan dan tugas-tugas" yang dihadapi kaum sosialis Rusia pada waktu itu. Sebab tidak mungkinnya mendirikan koran revolusioner di Rusia, karena adanya dakwaan polisi, Lenin, ketika masih dibuang di Seberia, menganjurkan secara detail rencana untuk menerbitkannya di luar negeri. Ketika masa pengasingannya berakhir pada bulan Januari 1900, Lenin segera merealisasikan rencananya. Bulan Februari ia mengadakan negosiasi dengan Vera Zasulich, yang telah datang ke St. Petersburg secara ilegal dari luar negeri, untuk berpartisipasi dalam kelompok Emansipasi Buruh di bidang penerbitan sebuah koran Marxist bagi seluruh Rusia. Apa yang kemudian dikenal sebagai Konferensi Pskov diadakan bulan April dengan partisipannya V.I. Lenin, L. Martov (Y. O. Tsederbaum), A. N. Potresov, S. I. Radchenko, dan kaum "Marxis legal" (P. B. Struve and M. I. Tugan-Baranovsky). Konferensi tersebut menyimak dan mendiskusikan draft editorial dari program penerbitan itu serta tujuan dari koran yang menjangkau seluruh Rusia (Iskra), serta majalah ilmiah dan politik Zarya ("Fajar"). Lenin mengunjungi sejumlah kota –– St. Petersburg, Riga, Pskov, Nizhni Novgorod, Ufa, and Samara – untuk menjalin hubungan dengan individu dan kelompok-kelompok Sosial-Demokrat dan meminta dukungan mereka terhadap Iskra. Pada bulan Agustus, ketika Lenin tiba di Swiss, ia dan Potresov bersama kelompok Emansipasi Buruh mengadakan konferensi, mengenai program dan tujuan dari koran dan majalah tadi, dengan mereka yang mungkin jadi kontributor, mengenai komposisi Dewan Editorial, dan juga mengenai soal markas redaksi. Nomor pertama ISKRA-nya Lenin terbit pada tanggal 11 Desember, 1900, di Leipzig, sedangkan nomor-nomor berikutnya dicetak di Munich; sejak April, 1902, di London; dan mulai musim semi 1903, di Jenewa. Dewan editorial ISKRA terdiri dari V.I. Lenin, G.V. Plekhanov, Y.O. Martov, P.B. Axelrod, A.N. Potresov dan V.I. Zasulich. Sekretaris pertama Dewan Editorial adalah I. G. Smidovich-Leman. N.K. Krupskaya menjadi sekretaris dewan editorialnya, pada musim semi 1901. Lenin lah, yang sebenarnya menjadi pemimpin redaksi dan tokoh terpenting ISKRA. Ia menerbitkan artikel-artikelnya mengenai semua masalah penting tentang organisasi Partai dan perjuangan kelas proletar Rusia, selain itu juga tentang kejadian-kejadian terpenting dalam urusan-urusan internasional. Sebagaimana direncanakan Lenin, Iskra menjadi pusat berkumpulnya kekuatan-kekuatan Partai, pusat pelatihan bagi buruh-buruh yang memimpin Partai. Di sejumlah kota di Rusia (St. Petersburg, Moscow, Samara, dan lainnya) kelompok-kelompok dan komite-komite RSDLP (Partai Buruh Demokrasi-Sosial Rusia) terorganisir mengikuti garis Iskra-nya Lenin. Organisasi-organisasi Iskra berkembang pesat dan bekerja dibawah kepemimpinan langsung para pendukung dan kawan-kawan seperjuangan Lenin: N. E. Bauman, I. V. Babushkin, S. I. Gusev, M. I. Kalinin, G. M. Krzhizhanovsky, dan lain-lain. Koran tersebut memainkan peran menentukan dalam perjuangan demi Partai Marxis untuk mengalahkan "kaum Ekonomis", dan untuk menyatukan berbagai lingkaran studi Sosial-Demokratik yang terpencar-pencar. Atas inisiatif dan partisipasi langsung Lenin, Dewan Editorial membentuk rancangan program Partai (diterbitkan dalam Iskra, nomor 21), dan menyiapkan Kongres II RSDLP, yang diselenggarakan pada bulan Juli dan Agustus 1903. Pada saat kongres diadakan, mayoritas organisasi Sosial-Demokrat Rusia telah mengkaitkan dirinya dengan ISKRA, menyetujui taktik-taktiknya, program-programnya dan rencana organisasi, serta mengakuinya sebagai organ kepemimpinan. Dalam resolusi khusus, Kongres memberikan catatan tentang peranan khusus yang dimainkan ISKRA dalam perjuangan partai, dan menerimanya sebagai Organ Pusat RSDLP. Kongres II menunjuk dewan editorial yang terdiri dari Lenin, Plekhanov dan Martov. Martov menentang keputusan partai dan menolak berpartisipasi, dan jadilah terbitan ISKRA Nomor 46-51 muncul dieditori Lenin dan Plekhanov. Kemudian Plekhanov menyeberang ke posisi kaum Menshevik dan menuntut agar bekas-bekas editor dari golongan Menshevik yang telah ditolak Kongres dijadikan dewan editorial. Lenin tidak bisa menyetujui anjuran tersebut, dan pada tanggal 19 Oktober (1 November, penangglan baru), 1903, ia meningalkan Dewan Editorial guna menguatkan posisinya di Komite Sentral dan mengadakan perjuangan melawan kaum oportunis Menshevik dari sana.
Nomor 52 ISKRA diedit oleh Plekhanov sendiri. Pada tanggal 13 November (26), 1903, Plekhanov atas inisiatifnya sendiri dan mencemoohkan kehendak Kongres, mengkooptasikan bekas-bekas editor Menshevik di Dewan Editorial. Dimulai pada nomor 52, kaum Menshevik mengambil alih ISKRA jadi organ oportunis mereka.

[6] Bagian ini merujuk pada aksi-aksi revolusioner massa yang terdiri atas para mahasiswa dan buruh –– demonstrasi-demonstrasi politik, rapat-rapat umum, dan pemogokan-pemogokan – yang terjadi dalam bulan Februari – Maret, 1901, di beberapa kota Rusia –– St. Petersburg, Moskow, Kiev, Kharkov, Yaroslavl, Tomsk, Warsaw, Belostok dan kota-kota lainnya. Pergerakan mahasiswa tahun 1900-1901, yang berawal dengan tuntutan-tuntutan akademik, mencapai watak aksi revolusioner melawan kebijakan otokrasi yang reaksioner; aksi-aksi mereka ini didukung oleh buruh-buruh yang maju dan hal itu mendapat sambutan di segala lapisan masyarakat Rusia. Sebab langsung dari berbagai demonstrasi dan pemogokan di bulan Februari dan Maret 1901 adalah pemanggilan wajib militer terhadap 183 mahasiswa Universitas Kiev sebagai tindakan hukuman atas partisipasi mereka dalam sebuah pertemuan mahasiswa.
Pemerintah melancarkan serangan gencar terhadap para partisipan aksi revolusioner; polisi dan pasukan Kazak membubarkan demonstrasi-demonstrasi dan menyerang partisipan-partisipan itu. Ratusan mahasiswa ditangkap dan dikeluarkan dari sekolah-sekolah tinggi dan berbagai universitas. Tanggal 4 (7) Maret 1901, demonstrasi di lapangan Katedral Kazan, St, Petersburg, dibubarkan secara amat brutal. Kejadian-kejadian selama Februari-Maret merupakan bukti kebangkitan revolusioner di Rusia; partisipasi kaum buruh dalam pergerakan di bawah slogan politik adalah luar biasa penting.

[7] Referensi ini ditujukan untuk tulisan Lenin yang berjudul "What Is To Be Done? Burning Questions of Our Movement" (Apa yang Harus Dilakukan? Permasalahan-permasalahan Mendesak Gerakan Kita).

[*] Tentulah akan dimengerti, bahwa agen-agen ini dapat bekerja secara berhasil hanya dalam kontak paling rapat dengan komite-komite lokal (kelompok-kelompok dan lingkaran-lingkaran diskusi) partai kita. Secara umum, tentulah, seluruh rencana yang diproyeksikan oleh kita bisa di implementasikan hanya dengan bantuan komite yang paling aktif, yang telah berkali-kali berusaha menyatukan partai dan yang, kami yakin, akan berhasil mencapai persatuan tersebut – bila tidak sekarang, kemungkinannya esok, bila tidak dalam satu cara, maka akan mengambil cara lain.